Hari itu, aku nggak nyangka bakal punya pengalaman yang bakal kuingat seumur hidup. Sebagai seorang spaceman , aku sudah terbiasa menghadapi hal-hal aneh di luar angkasa—panel yang tiba-tiba error, eksperimen yang gagal, atau gravitasi nol yang bikin semua benda melayang. Tapi ketemu alien? Itu beda levelnya.
Awalnya, aku lagi patroli rutin di orbit dekat sebuah planet kecil yang belum pernah dijelajahi. Planetnya cantik, penuh warna ungu dan hijau, tapi yang bikin aku kaget, tiba-tiba ada cahaya aneh di permukaan. “Ah, mungkin cuma refleksi sinar matahari,” pikirku sambil mengarahkan kamera untuk merekam. Tapi cahaya itu makin dekat, dan tiba-tiba… muncullah sosoknya.
Alien itu nggak menyeramkan sama sekali. Malah, dia terlihat lucu dan ramah. Tingginya sekitar setengahku, kulitnya berwarna biru kehijauan, dan matanya besar, seperti mata kucing tapi lebih ekspresif. Dia melambai ke arahku, dan aku, meski deg-degan, membalas lambaian itu. Aneh rasanya, tiba-tiba berada di hadapan makhluk yang selama ini cuma aku lihat di film atau buku sains.
Yang paling mengejutkan, alien itu bisa berkomunikasi! Tapi bukan dengan bahasa manusia. Dia mengeluarkan suara seperti nada musik, dan aku cuma bisa membalas dengan isyarat tangan. Lucunya, setelah beberapa saat, aku sadar dia paham kalau aku nggak mengerti “bahasa musik” itu. Terus, dia mengeluarkan semacam papan digital kecil yang menampilkan simbol-simbol, dan tiba-tiba aku bisa “mengerti” maksudnya. Intinya, dia cuma ingin berteman dan menunjukkan beberapa hal dari planetnya.
Aku jadi ikut penasaran. Alien itu membawaku ke sebuah taman kecil di permukaan planet—atau lebih tepatnya, taman yang penuh tumbuhan bercahaya. Ada bunga yang menyala saat disentuh, pohon yang daunnya berubah warna sesuai musik yang alien itu mainkan. Aku sampai nggak bisa berhenti tersenyum. Rasanya seperti masuk ke dunia dongeng, tapi nyata.
Kami duduk di sebuah batu besar, dan alien itu mengeluarkan semacam minuman berwarna ungu dari botol kecil. Aku meneguk sedikit, dan rasanya manis tapi segar, beda dari apapun yang pernah kucoba di bumi. Dia tertawa, atau setidaknya itulah yang aku tangkap dari gerakan tubuhnya, ketika aku hampir tersedak karena terlalu kaget dengan rasa aneh itu.
Sambil menikmati minuman itu, aku dan alien itu saling tukar cerita. Aku menceritakan bumi, kopi, hujan, dan kemacetan. Dia menceritakan planetnya, cara mereka hidup damai, dan bahkan beberapa lelucon ringan—meskipun aku nggak sepenuhnya paham. Tapi kami tertawa bersama, karena ternyata tertawa itu memang bahasa universal.
Akhirnya, waktuku untuk kembali ke stasiun luar angkasa tiba. Alien itu melambai, dan aku melambai balik. Sebelum pergi, dia memberikan semacam kristal kecil bercahaya sebagai tanda pertemanan. Aku menaruhnya di kantong, sambil tersenyum sendiri.
Hari itu, aku belajar satu hal penting: tidak semua hal aneh itu menakutkan. Kadang, yang kita anggap asing dan asing itu sebenarnya cuma teman yang menunggu untuk dikenali. Dan di luar angkasa, persahabatan bisa datang dari makhluk yang sama sekali berbeda bentuk dan bahasa, tapi tetap bisa bikin hati hangat.